Restoration of Electrolyte Homeostasis and Microcirculatory Perfusion in End-Stage Renal Disease via Intravenous Oxyhydrogen and Gasotransmitter Nanobubble Therapy Combined with Potassium Titration: A Case Report
Aning T. K. Dewi dan Aditya T. Hernowo
ABSTRAK
Latar Belakang. Penyakit ginjal kronis (PGK) stadium 5, atau dikenal sebagai penyakit ginjal tahap akhir (ESRD), berkaitan dengan angka kematian yang tinggi, peradangan sistemik, stres oksidatif, dan gangguan metabolik kompleks. Terapi yang tersedia saat ini, seperti hemodialisis, memang menopang kehidupan, tetapi sering kali tidak mampu mengatasi disfungsi molekuler yang mendasarinya. Laporan kasus ini mengeksplorasi penerapan terapi adjuvan molekuler inovatif yang mengintegrasikan infus intravena nanobubble hidrogen-oksigen (HHO), nanobubble gasotransmiter (NO, CO, H₂S), dan kalium klorida (KCl) yang dititrasi secara progresif pada seorang pasien yang menjalani dialisis rutin.
Presentasi Kasus. Seorang pria berusia 63 tahun dengan PGK stadium 5, diabetes tipe 2, dan hipertensi yang tidak terkontrol menjalani 21 sesi infus intravena pasca-dialisis selama dua bulan (April–Juni 2025), yang terdiri dari nanobubble HHO, gasotransmiter, dan KCl yang dititrasi bertahap. Gejala awal meliputi intoleransi cairan (≤200 cc/hari), kelelahan pasca-dialisis, hiperpigmentasi kulit, dan nafsu makan yang buruk. Respons terapi mencakup peningkatan toleransi cairan oral (400 cc/hari), perfusi kulit yang membaik, pemulihan nafsu makan, dan normalisasi frekuensi buang air kecil. Hasil laboratorium menunjukkan stabilisasi kadar kalium serum (dari 3,95 menjadi 4,25–4,59 mmol/L), penurunan HbA1c (dari 8,1% menjadi 6,69%), dan penurunan hs-CRP (dari 8,0 menjadi 2,28 mg/L), tanpa adanya efek samping.
Pembahasan. Nanobubble HHO dan gasotransmiter memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, dan pelindung pembuluh darah, sementara KCl yang dititrasi bertujuan mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit yang krusial pada ESRD. Kombinasi agen-agen ini menawarkan intervensi multi-target pada tingkat sistem yang dapat mengurangi stres oksidatif, mempertahankan mikrosirkulasi ginjal, dan meningkatkan stabilitas metabolik. Hal ini sejalan dengan literatur terkini yang menyoroti peran gasotransmiter dalam proteksi ginjal dan modulasi redoks.
Kesimpulan. Kasus ini menunjukkan bahwa terapi berbasis nanobubble intravena yang menggabungkan HHO dan gasotransmiter, jika dikombinasikan dengan titrasi kalium yang terkontrol, dapat secara aman memperbaiki parameter klinis dan biokimia pada pasien PGK stadium 5 yang menjalani hemodialisis. Diperlukan studi terkontrol berskala besar untuk memvalidasi efektivitas dan menetapkan protokol untuk penerapan klinis yang lebih luas.
Kata kunci:
penyakit ginjal kronis; hemodialisis; nanobubble hidrogen; gasotransmiter; nitrogen monoksida; karbon monoksida; hidrogen sulfida; kalium klorida; stres oksidatif; terapi molekuler
Artikel pracetak tersedia secara online di: https://www.preprints.org/manuscript/202507.2558/v1
atau unduh lampiran di bawah ini: